Sambut Malam Asyura 1448 H, H. Abd. Haris Ajak Jamaah Perbanyak Ibadah dan Jaga Kebersihan Hati
Polewali Mandar – Suasana penuh khidmat menyelimuti Masjid Jami’ Darul Iman Mammi saat jamaah mengikuti kegiatan dzikir dan doa bersama dalam rangka menyambut malam 10 Muharram 1448 Hijriah, Rabu (24/06/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum spiritual bagi masyarakat untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan Muharram.
Dzikir dan doa bersama yang dirangkaikan dengan tausiah keagamaan itu dilaksanakan sebagai bagian dari peringatan Hari Asyura. Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah, di antaranya dengan melaksanakan puasa Tasua pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Polewali Mandar, H. Abd. Haris. Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan tausiah yang mengupas sejarah dan keutamaan puasa Tasua dan Asyura sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam tausiahnya, H. Abd. Haris menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun. Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Ketika ditanya alasan mereka berpuasa, mereka menjawab bahwa hari tersebut merupakan hari kemenangan dan keselamatan Nabi Musa AS, sehingga dijadikan sebagai bentuk rasa syukur.
“Rasulullah SAW kemudian menyampaikan bahwa beliau lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS. Namun untuk membedakan pelaksanaan puasa umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah menganjurkan agar puasa juga dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram,” jelasnya di hadapan jamaah.
Selain membahas sejarah puasa Asyura, H. Abd. Haris juga mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga kebersihan hati. Menurutnya, dalam kehidupan manusia terdapat tiga tingkatan hati, yaitu hati yang sakit, hati yang mati, dan hati yang selamat. Ia menekankan pentingnya setiap Muslim berupaya mencapai kondisi hati yang selamat melalui berbagai amal ibadah.
“Kita harus senantiasa menjaga dan memelihara hati agar berada pada posisi hati yang selamat, yaitu hati yang selalu dekat dengan Allah SWT dan terhindar dari penyakit-penyakit hati,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai amalan seperti menjaga salat lima waktu berjamaah di masjid, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu merupakan cara yang dapat membantu seseorang terhindar dari kondisi hati yang sakit maupun hati yang mati.
Menutup tausiahnya, H. Abd. Haris menjelaskan tentang tiga lapisan hati dalam diri manusia. Lapisan terluar disebut qalbun, yang memiliki sifat mudah berubah dan berbolak-balik. Lapisan berikutnya adalah al-af’idah, yang menjadi tempat menerima pengetahuan dan pemahaman. Adapun lapisan terdalam adalah shidr, yaitu hati nurani atau rahasia terdalam manusia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT.
Kegiatan dzikir dan doa bersama tersebut berlangsung dengan penuh kekhusyukan hingga akhir acara. Melalui kegiatan ini, jamaah diharapkan dapat menjadikan momentum Asyura sebagai sarana meningkatkan keimanan, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT di bulan Muharram yang penuh keberkahan.









