Matakali – Kementerian Agama Kabupaten Polewali Mandar terus memperkuat penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di lingkungan madrasah sebagai bagian dari program prioritas Kementerian Agama di bidang pendidikan. Penguatan tersebut dilakukan melalui workshop implementasi KBC yang diikuti guru-guru madrasah, Rabu (23/9/2026).

 

Workshop yang digelar di MTs Al-Ashryah, Kecamatan Matakali, tersebut diikuti guru dari delapan madrasah jenjang MTs dan RA. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Polewali Mandar, H. Laupa, serta dihadiri Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah, Muhaimin, bersama para pengawas madrasah.

 

Dalam sambutannya, Muhaimin menyampaikan bahwa sebanyak 25 madrasah di Kabupaten Polewali Mandar akan menjadi madrasah piloting dalam penerapan KBC. Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari program kerja pengawas madrasah untuk mendorong implementasi KBC secara lebih luas di satuan pendidikan madrasah.

 

Ia menegaskan, penerapan KBC tidak dimaksudkan untuk menggantikan kurikulum yang telah berjalan. KBC justru menjadi pendekatan yang melengkapi dan menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran melalui penguatan nilai-nilai cinta dalam proses pendidikan.

 

“KBC tidak untuk mengganti kurikulum lama, tetapi sebagai penyempurna dengan menggunakan pendekatan-pendekatan cinta dalam pelaksanaan pembelajaran,” tegas Muhaimin.

 

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Polman, H. Laupa, mengatakan KBC merupakan gagasan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan pendidikan melalui pendekatan yang menempatkan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran.

 

“KBC merupakan gagasan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Ini bukan merupakan kurikulum baru, tetapi penyempurna dari kurikulum sebelumnya,” ujarnya.

 

H. Laupa berharap workshop tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi secara teoritis, tetapi juga memberikan ruang kepada para guru untuk mempraktikkan penerapan KBC dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pemahaman guru akan lebih kuat apabila materi yang diperoleh dalam workshop dapat langsung diterapkan melalui praktik.

 

“Saya berharap dalam workshop ini bukan hanya sekadar memaparkan materi-materi KBC, tetapi perlu juga adanya praktik,” lanjutnya.

 

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pokjawas Madrasah yang telah mulai mendorong penerapan KBC di sejumlah madrasah. Salah satunya melalui penerapan awal di MTs Husnul Khatimah sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan mengembangkan pendekatan KBC di madrasah.

 

“Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Pokjawas karena KBC ini sudah mulai diterapkan di MTs Husnul Khatimah,” ujarnya.

 

Menutup sambutannya, H. Laupa berharap seluruh peserta dapat mengikuti workshop dengan sungguh-sungguh sehingga materi dan praktik yang diperoleh dapat diterapkan di madrasah masing-masing. Ia menekankan pentingnya komitmen guru dalam menerjemahkan nilai-nilai KBC ke dalam proses pembelajaran yang mampu menciptakan suasana pendidikan yang lebih positif, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.